Mengatasi Rasa Takut Salah (Mitophobia)

SHARE:

Melakukan kesalahan adalah manusiawi. Tetapi ada orang yang tak berani menyatakan atau melakukan sesuatu karena takut salah. Mitophobia, demikian istilahnya. Apa gejalanya dan bagaimana menyembuhkannya?

Bagi penderita, gejala ini tentu menggangu. Bagaimana tidak, hidup di tengah orang banyak bersosialisasi adalah mutlak. Tapi bagaimana mareka mau bersosialisasi, jika belum-belum sudah takut melakukan kesalahan?

Hal seperti itu di alami oleh Noy (sebut saja begitu). Mahasiswa tingkat akhir sebuah perguruan tinggi ini merasa amat takut apabila disuruh berpidato di depan kelas. Sebetulnya Noy bukan tidak bisa atau bodoh, tapi perasaan takut salah selalu menghantuinya.

Ketika rekan-rekannya mendesak Noy untuk maju ke mimbar, tak pelak Noy jatuh pingsan. Sejak itu, jika mendengar kata-kata pidato, ia akan mengeluarkan keringat dingin dan wajah pias.

Lain lagi kisah Beny, seorang eksekutif muda yang bekerja di sebuah penerbitan. Ia merasa takut apabila harus berhadapan dengan bosnya yang otoriter. Awalnya, suatu ketika ia melakukan kesalahan dalam percetakan majalah. Tak pelak lagi sang atasan marah-marah dan memakinya.

Sejak itu Beny lebih banyak diam dan takut mengeluarkan ide dan pernyataan. Belum lagi hilang rasa trauma itu, ia telah dihadapkan pada klien yang kurang puas atas hasil kerjanya. Beny pun semakin takut berbicara. Malah ia merasa lebih nyaman apabila bersembunyi dalam kamar.

Mirip Sosial Phobia

Menurut Prof. DR. Soesmalijah Soewondo, Guru Besar Psikologi FPUI, phobia adalah rasa takut yang berlebihan. Pengidapnya memiliki rasa takut yang tidak dapat diterangkan, padahal situasi yang ditakutkan itu tidak ada.

Dalam hal ini, mitophobia merupakan rasa takut terhadap pernyataan yang akan diungkapkan itu salah. Menurut Soesmalijah, mitophobia hampir mirip sosial phobia. Penderitanya mempunyai kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, karena takut salah ketika mengemukakan sesuatu.

"Pokoknya rasa takut terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia lain. kan ada orang yang takut lalu mukanya menjadi merah. Nah, daripada dilihat orang begitu, lebih baik dia di rumah saja", urai Soesmalijah.

Menurutnya, takut menyatakan diri memiliki beberapa tingkatan. Ada orang yang takut mengatakan tidak, tetapi itu masih dalam batas wajar. Namun ada yang sangat ketakutan sampai gemetaran lalu pingsan.

Hal inilah yang membedakan penderita mitophobia dengan orang yang memang enggan untuk bicara karena tidak mempunyai kemampuan berkomunikasi. Reaksi yang ditimbulkan orang ini biasa saja tapi bagi penderita mitophobia, reaksinya berlebihan hingga berkeringat dingin padahal belum ngomong, paparnya panjang lebar.

Teori Penyebab Rasa Takut Salah (Mitophobia)

Ada beberapa teori yang menyebabkan seseorang menjadi mitophobia. Soesmalijah mengatakan, yang pertama adalah pengalaman buruk. Seseorang yang pernah bicara lalu salah, kemudian ada orang yang memarahinya sampai dia shock.

Kalau itu terjadi berulang-ulang, kata Soesmalijah, maka untuk seterusnya dia akan takut. Itulah yang dinamakan phobia. Tapi bisa juga karena keterampilan berkomunikasinya kurang. Bisa akibat sewaktu kecil orang tua selalu mengatakan salah atas apa yang dia ungkapkan, lalu menyebabkan rasa percaya dirinya berkurang.

Menurut Soesmalijah, faktor kebudayaan bisa menjadi bibit mitophobia. Hal ini berkaitan dengan hubungan asertif (tidak berani menyatakan diri). Sejak kecil pada umumnya kita ditanamkan bahwa orang tua atau bos lebih tahu. Dengan demikian, sebetulnya kita mendidik orang yang hanya berani mengatakan "iya". Lalu tidak berani ngomong terhadap suami, terhadap atasan dan orang tua. "Nah itu kebudayaan yang harus diubah. Apabila sekarang zaman globalisasi, kalau nggak berani ngomong kan payah," jelasnya.

Lebih lanjut Soesmalijah mengatakan, reaksi yang ditunjukkan oleh penderita mitophobia selain berkeringat, adalah tubuh bergetar, muka menjadi pucat atau pias. Penderita bahkan akan bersembunyi bila bertemu orang.

Mitophobia adalah suatu tahapan yang sudah berlebihan dan tidak masuk akal. Akibatnya bagi penderita, hal itu merupakan sesuatu yang sangat mengganggunya secara psikologi dan perlu diatasi.

Desensitisasi & Relaksasi

Menurut Soesmalijah, miophobia dapat disembuhkan dengna terapi Desensitisasi Sistematik. Yaitu suatu terapi dimana penderita dibawa secara bertahap menghadapi situasi yang dia takuti.

Pertama, pelan-pelan disuruh mulai dari menulis dulu, lalu melatih keberaniannya untuk ngomong, kemudia bermain peran dan akhirnya dihadapkan dengan situasi yang sesungguhnya, urai Soesmalijah menjelaskan.

Yang lebih penting penderita mitophobia harus mempunyai keinginan untuk sembuh. Kalau dia merasa itu sebagai kekurangan, maka ia harus bermotivasi diir untuk sembuh. Sedangkan keluarga hanya mendukung saja, paparnya.

Soesmalijah menjelaskan, pasien hanya diberikan terapi saja dan tidak menggunakan obat-obatan. Mungkin obat penenang diberikan oleh seorang psikiater. Terapi yang digunakan adalah terapi relaksasi progresif yang bertujuan untuk merelaksasikan otot-otot yang menegang akibat ketakutan yang luar biasa.

Menurut Soesmalijah, penderita mitophobia dapat sembuh total melalui terapi yang teratur. Lamanya penyembuhan tergantung dari parahnya mitophobia yang diderita. Bisa sehari atau mungkin berbulan-bulan. Sangat tergantung pada diri pasien.

Untuk menghindari seseorang terkena mitophobia, katanya, sebaiknya gejala non asertif dihilangkan. Misalnya berinteraksi dengan orang lain, seseorang harus berani mengeluarkan pernyataan yang tidak merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Itu yang paling baik, keterampilan harus dilatih.

Juga dalam mendidik anak, sambung Soesmalijah, sebaiknya orang tua jangan menakut-nakuti. Apabila anak salah ngomong sebaiknya jangan dimarahi atau ditakuti agar si anak merasa bersalah atas apa yang dilakukan.

Soesmalijah mengatakan, dampak yang timbul bagi penderita mitophobia sangat merugikan karena ia tidak bisa berhubungan sosial. Padahal oarang hidup selau berhubungan dengan orang lain.

Karena itu, Soesmalijah menyarankan, agar penderita mau melatih skillnya dalam berkomunikasi. Bisa dengan cara-cara yang sederhana dahulu. Misalnya mulai dari latihan menulis, lalu secara lisan. Itu sangat membantu penderita, sehingga rasa percaya dirinya meningkat.

Nah, apakah Anda memiliki perasaan takut salah atau membuat suatu pernyataan, padalah hal itu belum Anda kemukakan? Bila ya, sudah saatnya Anda berkonsultasi dengan seorang psikolog.

Penulis : Enny

COMMENTS

BLOGGER: 7
Loading...
Nama

A Great Big World Adele Advan Alergi Anak Android Anti Karat Aplikasi Android Ardiles Ardiles Metro Artis Asuransi Avenged Sevenfold Avril Lavigne Bali Band Terbaik Batu Berita Berita Tekno Bisnis BlackBerry Bruno Mars Budidaya Careless Whisper Carly Rae Jepsen Cencer Charlie Puth Christina Perri Coldplay Daftar Harga Demi Lovato Desain Desain Interior Diabetes Diet Dream Theater Ed Sheeran Emily Browning Entertaiment Fashion Film Finansial Fun. Game Game Android Game Berhadiah Game Interaktif Gaya Hidup Gigi Green Day Guns N' Roses Hamil Hardwell Harga Healthy Hoobastank Hotel Murah Hubungan Imagine Dragons Inspirasi Isyana Sarasvati James Bay Jantung Jasa Jason Mraz Jazz Jerawat Jessie J John Legend Jual Rumah Juice Newton Justin Bieber Kanker Kansas Karir Kecantikan Keluarga Kesehatan Kesehatan Anak Keuangan Lagu Lagu Romantis Lagu Terbaik Lana Del Rey Lirik Louncher Magelang Magic! Makanan Makanan Sehat Malang Manfaat Buah Maroon 5 Meghan Trainor Metallica Michael Bublé Michael Heart Minuman Mito Mitos Motivasi Mr Big Music Musik Nate Ruess Nike Oh Honey Olahraga One Directione Paramore Passenger Pembuatan Pendidikan Pengembangan Diri Penginapan Penuaan Perjalanan Pernikahan Pink Queen Review Rexco Rod Stewart Rudimental Rumah Sam Smith Samsung Scorpions Selena Gomez Sepatu Sepatu Ardiles Sepatu Basket Smartphone Sony Suicide Squad OST Tanaman Hias Teknologi Terjemahan The Overtunes Tips Tips Hubungan Tips Kesehatan Tips Teknologi Toko Online Troubleshoting Tutorial Blog TV LED TV LED Murah Wanita WD-40 vs Rexco 50 Website Wisata Wiz Khalifa Xiaomi Yoav
false
ltr
item
Heqris.com: Mengatasi Rasa Takut Salah (Mitophobia)
Mengatasi Rasa Takut Salah (Mitophobia)
Mengatasi Rasa Takut Salah (Mitophobia) - Melakukan kesalahan adalah manusiawi. Tetapi ada orang yang tak berani menyatakan atau melakukan sesuatu karena takut salah. Mitophobia, demikian istilahnya. Apa gejalanya dan bagaimana menyembuhkannya?
http://1.bp.blogspot.com/-42vLqDAto8k/VJFPEoMZHAI/AAAAAAAANJo/xXM9XtIq1TM/s1600/Sendiri.jpg
http://1.bp.blogspot.com/-42vLqDAto8k/VJFPEoMZHAI/AAAAAAAANJo/xXM9XtIq1TM/s72-c/Sendiri.jpg
Heqris.com
http://www.heqris.com/2011/09/mengatasi-rasa-takut-salah-mitophobia.html
http://www.heqris.com/
http://www.heqris.com/
http://www.heqris.com/2011/09/mengatasi-rasa-takut-salah-mitophobia.html
true
8507191404690170390
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy