Senin, 24 Agustus 2009

Pentingnya Rekreasi Bagi Remaja

Pentingnya Rekreasi Bagi Remaja
Setelah kegiatan rutin sehari-hari di rumah, di sekolah maupun di lingkungan bermain, tentunya remaja membutuhkan penyegaran agar kondisi fisik dan pikirannya kembali segar untuk beraktivitas secara optimal. Karena itu, remaja membutuhkan waktu untuk berekreasi. Bagaimana rekreasi yang baik bagi remaja?

Rekreasi merupakan penyegaran kembali badan dan pikiran melalui suatu kegiatan yang menggembirakan. Dan, rekreasi adalah salah satu bentuk penggunaan atau pengisian waktu luang bagi seseorang. Saat inilah seseorang mendapat kesempatan untuk melepaskan diri sejenak dari kegiatan-kegiatan yang melelahkan pikiran maupun fisik.

Tentunya diharapkan, remaja dapat mempergunakan waktu luang itu sebaik-baiknya. Semuanya kembali kepada sikap dan pendirian masing-masing individu.

Namun, tak jarang rekreasi malah dipakai sebagai ajang untuk melakukan hal-hal yang tidak diperkenankan atau dilarang dan melawan norma-norma. Ketidaksiapan mental para remaja dan longgarnya pengawasan orangtua, dapat menjadi penyebab.

Rekreasi seperti berkemah atau naik gunung yang seharusnya menyegarkan tubuh dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan, malah dijadikan sebagai saat kebebasan dari orangtua. Remaja lalu melakukan berbagai tindakan yang tidak diperkenankan orangtuanya.

Tetap Butuh Pengawasan
Kalau begitu, perlukah remaja berekreasi? "Pada dasarnya, setiap orang memerlukan rekreasi. Bahkan, anak yang baru masuk sekolah dasar pun membutuhkan rekreasi," ujar psikolog anak, Dra. Shinto B. Adelar, M.Sc

Ketika seorang anak telah memasuki dunia pendidikan di sekolah, ia dituntut untuk serius. Sesuatu yang belum ditemuinya di rumah. Belum lagi rasa tegang dan capek. Kegiatan rutin pada pagi hingga siang ini, tentulah merupakan suatu hal yang baru dan dirasakan sebagai beban.

Lamanya dunia pendidikan di sekolah, menuntut suatu suasana segar di luar kegiatan rutin. "Agar memberikan energi kembali untuk 'mesin-mesin' tubuh yang sudah capek. Melepaskan diri dari kegiatan rutin. Sehingga, bila kembali menghadapi kegiatan rutin, badan dan pikiran sudah segar.

Kehidupan remaja yang memasuki suatu tahap baru ini sering membingungkan para orangtuanya. Dahulu, ketika masih kanak-kanak, mereka terasa begitu dekat dan lekat dengan orangtuanya. Tetapi kini, menginjak masa remaja, putra-putri mereka seolah ingin melepaskan diri dari pengawasan ayah-ibunya.

Remaja, kini tidak lagi mau terlalu diawasi gerak-geriknya. Tetapi mereka juga belum mau dilepas begitu saja dari orangtua. Pada usianya, para remaja lebih menyenangi berkumpul dan bepergian meluangkan waktunya bersama teman-teman seusia dan sepermainannya.

Ketika remaja Anda meminta izin untuk berekreasi, seperti berkemah di pegunungan bersama teman-temannya, apa yang harus Anda lakukan?

Menurut Shinto, bila remaja Anda telah memasuki dunia perguruan tinggi, Anda dapat memberikan kepercayaan kepada mereka untuk bepergian bersama teman-temannya. "Namun, bila si remaja masih duduk di bangku SD, SMP sampai SMA, mereka harus ditemani oleh orangtuanya," tegas Kepala Bagian Psikologi Perkembangan Anak FPUI ini.

Terlebih bila remaja Anda tidak mempunyai kualifikasi yang cukup untuk bepergian jauh dari rumah, seperti berkemah di hutan. Karena, sangat jarang ditemui orangtua yang telah mengajari anak-anaknya untuk berkemah dan hidup di hutan.

Kalau pun Anda tidak sempat, atau anak-anak sedikit canggung, Anda tetap tidak boleh melepas mereka sendiri tanpa pengawasan. Harus ada orang dewasa yang mengawasi mereka. "Orangtua yang bertanggungjawab pasti takkan melepas remajanya yang masih sekolah untuk pergi sendiri.

Tidak bisa dipungkiri, ada remaja yang terpaksa mendustai orangtuanya agar diberikan izin bepergian beberapa hari. Terkadang dengan berdalih dan menjamin keikutsertaan guru sekolahnya.

"Bila komunikasi dengan anak-anak telah baik sejak kecilnya, tentu hal-hal seperti penipuan ini tidak akan terjadi. Persoalan dan keinginan mereka akan disampaikan secara terbuka kepada orangtua. Dengan begitu, kepercayaan yang Anda berikan pun akan dijaga oleh remaja dengan perilaku yang tidak mengingkari norma-norma keluarga.

Keyakinan para remaja akan kemampuan terhadap dirinya terkadang sangat berlebihan. Seakan sudah mengetahui dan menguasai segala macam hal. Padahal, penilaian mereka terhadap keadaan lingkungannya sering tidak tepat. Sehingga akhirnya sering membahayakan diri mereka sendiri.

Rekreasi yang membutuhkan persiapan dan pengetahuan khusus seperti berkemah atau naik gunung, sering menimbulkan bahaya bagi para remaja yang terlalu percaya diri. "Bukankah untuk pergi ke pegunungan harus mempunyai pengetahuan dan kepandaian tersendiri? Berkemah bukan sekadar pindah rumah dan lepas dari pengawasan orangtua," jelas Shinto.

Rekreasi pun bukan berarti bebas dari aturan-aturan dan keharusan yang selama ini dijumpai para remaja. Anda harus dapat menanamkan pengertian bahwa selama berekreasi pun tetap ada aturan mainnya. Sehingga, tujuan rekreasi yang dilaksanakan dapat tercapai.

"Contoh sederhana saja, ketika remaja ingin berekreasi dengan menonton film di bioskop. Mereka tetap harus mengikuti peraturan untuk antri beli tiket, duduk dengan tenang, dilarang merokok dan sebagainya.
Sarana Sosialisai
Tentunya, sebagai orangtua, Anda telah merencanakan untuk rekreasi atau bepergian bersama putra-putri Anda. Sedangkan remaja Anda pun mempunyai program untuk rekreasi bersama teman-temannya.

Bila begitu, manakah yang terbaik? "Keduanya tentu saja baik untuk dilakukan. Karena, untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga, rekreasi bersama keluarga baik untuk dilakukan.

Sedangkan rekreasi bersama teman-teman sepermainan mempunyai fungsi tersendiri pula.

Fungsi pertama, adalah bahwa remaja dapat belajar banyak hal. Seperti belajar bagaimana cara bergaul. Remaja akan mengerti perbedaan pergaulan dalam keluarga dan di antara teman-teman sebaya. Terlebih ketika berkemah, mereka harus hidup bersama dalam beberapa hari.

Juga, remaja dapat belajar bagaimana cara mengenal orang lain. Baik itu sifat maupun ciri-ciri lainnya. Atau belajar bertoleransi pada kebiasaan-kebiasaan rekannya yang berbeda dengan dirinya. Mereka belajar untuk sabar dan menyesuaikan diri pada lingkungan dimana mereka berada.

"Rekreasi, seperti study tour, juga penting untuk diperhatikan. Remaja dapat belajar bagaimana harus bersikap pada teman lawan jenisnya. Apa dan bagaimana serta tujuan dari sikap dan tingkah laku lawan jenisnya akan diketahui dengan rekreasi bersama teman-teman.

Untuk belajar bersosialisasi, yang sangat dibutuhkan remaja di usianya, Shinto mengatakan bahwa rekreasi adalah sarana yang baik. "Seperti saat berkemah, remaja dapat tampil apa adanya dan belajar banyak hal. Itu akan dibutuhkan pada saat remaja tampil di lingkungan yang lebih luas lagi, seperti di masyarakat.

Secara umum, manfaat dan kegunaan rekreasi adalah menghasilkan ketenangan, rasa bebas dan situasi istirahat yang memang dibutuhkan. Juga sarana untuk melepaskan energi fisik dan emosional.

Dengan rekreasi, berbagai kesempatan yang berguna dapat dilakukan oleh para remaja. Yaitu kesempatan untuk mengekspresikan fantasi atau daya khayalnya, kesempatan memperluas pergaulan, serta kesempatan untuk menemukan berbagai hal yang aneh dan unik.

Nah, tentunya Anda ingin agar remaja Anda tumbuh sebagai seorang remaja yang dapat beraktivitas secara optimal, di rumah, sekolah maupun di pergaulannya. Disamping menjalankan rencana Anda untuk berekreasi bersama keluarga, berikanlah kepercayan kepada mereka untuk memanfaatkan waktu, berekreasi bersama teman-temannya.

Penulis : Weshley Galung
Direkomendasikan Untuk Anda :

6 komentar:

  1. waghh bener banget kak

    BalasHapus
  2. rekreasi .. ternyata ada juga yang negatif ya makasih infonya mas ..

    BalasHapus
  3. Jelas sob.. rekreasi bisa menghilangkan stress setelah disibukan dengan kegitan rutinitas sehari-hari ..aku dah merasakannya kemarin2

    BalasHapus
  4. Setuju banget, rekreasi emang penting banget, coba ajah kalo dalam 6 bulan terus berurusan sama urusan sekolah atau kuliah tanpa rekreasi, pasti jenuh banget dan yang ada malah kurang konsentrasi dan jadi sensitif, itu menurut pengalaman ku loh,,hehehe...

    BalasHapus
  5. sya stuju,rekreasi mang dbthkan,,,

    BalasHapus
  6. sepakat, harus ada sesutu hal yang dapat membuat kita merifresh apa yang kita lakukan setiap hari dan berulang ulang agar kinerja otak jadi maksimal kembali

    BalasHapus